Jumat, 09 Mei 2014

Keterkaitan Human Papillom Virus dengan Kanker Serviks

Human Papillom Virus atau HPV merupakan mikroorganisme yang dicurigai memegang peranan dalam kanker serviks. Hingga kini sudah diidentifikasi sekitar 60 jenis HPV, dimana diantaranya terdapat 23 jenis yang menimbullan infeksi alat genital eksternal baik pada laki laki maupun perempuan. HPV pun merupakan virus yang paling banyak ditemukan di dunia dan menginfeksi sekitar 70% orang dewasa yang aktif melakukan hubungan seksual

Selama infeksi ini tidak diberantas dan tidak diobati, maka infeksi ini dapat meningkat menjadi infeksi kronis (infeksi yang berlangsung lama) dan beberapa kasus bergerak kearah kanker serviks. Infeksi HPV memiliki keterkaitan dengan lebih dari 99% kasus kanker serviks diseluruh dunia. Sedangkan diketahui bahwa kanker ini menjadi penyebab kematian, bahkan tiap tahunnya sekitar seperempat juta wanita meninggal karena penyakit ini. Tidak hanya itu, kanker serviks juga berdampak pada sekitas setengah juta wanita tiap tahunnya dan 80% penderita kanker serviks hidup di negara negara dengan pendapatan penduduk yang rendah atau sedang. 

Tidak dipungkiri, memang salah satu cara terbaik mencegah kanker serviks adalah denganscreening gynaecological. Kini vaksin pun sudah ada untuk mencegah virus HPV, kombinasi antara vaksin dan deteksi dini pun dapat memberikan manfaat yang besar untuk mencegah penyakit kanker serviks. 

ladies, kenali dan waspadai kanker

Kanker leher rahim atau yang dikenal dengan kanker serviks merupakan jenis keganasan yang paling sering ditemukan dikalangan wanita indonesia. Bahkan kanker serviks mempunyai jumlah kasus yang cukup tinggi yaitu 25,6% atau dapat dikatakan 25 dari 100 wanita mengalami penyakit ini. Menurut perkiraan depkes terdapat sekitar 100 kasus per 100000 penduduk. Tingginya penderita pada penyakit ini, disebabkan karena pada tahap awal tidak ada gejala yang khas, bahkan lebih dari 70% kasus yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi stadium lanjut

Penyakit ini pun ditandai dengan adanya keputihan, perdarahan sewaktu melakukan hubungan seksual,, terjadinya perdarahan walaupun telah memasuki masa menopause. Penyakit yang menyebabkan kematian pada  wanita ini sangat disayangkan karena sebenarnya penyakit ini dapat dicegah dan diketahui sejak dini dengan melakukan deteksi dini. Deteksi dini dapat dilakukan dengan cara pap smear dan kolposkopi. Namun, kolposkopi jarang sekali dilakukan, karena memerlukan biaya yang mahal, kurang praktis, dan memerlukan biopsi (pengambilan sedikit jaringan yang diduga sebagai kanker)

Sehingga, bentuk pemeriksaan utama dan dianjurkan ialah pap smear, karena pemeriksaan ini sederhana, cepat dan tidak sakit. Pap smear sendiri merupakan suatu metode dimana dilakukan pengambilan sel dari mulut rahim dan di periksa dibawah mikroskop. Setiap wanita yang telah umur 18 tahun atau wanita yang telah aktif melakukan hubungan seksual selayaknya sudah melakukan pap smear.Pap smear tidak dilakukan seumur hidup melainkan berkala terutama setelah wanita berusia 40 tahun. Kini, cara baru untuk deteksi dini pun sudah ditemukan melalui inspeksi vagina dengan asam cuka atau IVA. Cara ini dianggap lebih murah, mudah dan diharapkan dapat menyentuh semua lapisan masyarakat terutama lapisan bawah.